Sabtu, 19 Mei 2012

makalah pola interaksi masyarakat kajang


Guru Pembimbimg: Aries. S.pd.
MAKALAH SOSIOLOGI
POLA INTERAKSI SOSIAL DI KAJANG








Oleh:
Kelompok 3:
Ø  Noorwahdah
Ø  Oktaviana
Ø  Nurasmah
Ø  Karlina ende putri
Ø  Nurasmah
Ø  Kaharuddin
Ø  Nasrullah salim
Sekolah Islam Athirah Boarding School Bone
Tahun Pelajaran 2012/2013







 


KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas hubungan interaksi (sosiologi).
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.


Bone,



Tim penulis





















DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………..
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………….
BAB 1 PENDAHULUAN: ………………………………………………………………………..
A.    LATAR BELAKANG ……………………………………………………………………..
B.     RUMUSAN MASALAH …………………………………………………………………..
C.     TUJUAN PENELITIAN …………………………………………………………………...
D.    MANFAAT ………………………………………………………………………………...
BAB 2 ISI :

A.    KOMUNITAS KAJANG DI TENGAH PERGULATAN ZAMAN ………………………

B.     SOSIAL BUDAYA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) SUKU AMMATOA DI DESA TANATOWA DISTRIBUSI ………………………………………….……………

C.     MENOLONG ADALAH SALAH SATU POLA INTERKSI DI KAJANG ……………...

Ø  Faktor-Faktor yang Mmpengaruhi Perilaku Menolong
Ø    Munculnya Perilaku Menolong Masyarakat Suku Kajang

D.    PROSES INTERAKSI SOSIAL …………………………………………………………...

BAB 3 :

A.    KESIMPULAN …………………………………………………………………………….
B.     SARAN …………………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………...





















BAB 1
PENDAHULUAN

A.                LATAR BELAKANG
Suku Kajang adalah salah satu suku yang tinggal di pedalaman Makassar, Sulawesi Selatan. Secara turun temurun, mereka tinggal di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Bagi mereka, daerah itu dianggap sebagai tanah warisan leluhur dan mereka menyebutnya, Tana Toa.
Di Tana Toa, suku Kajang terbagi menjadi dua kelompok, Kajang Dalam dan Kajang Luar. Suku Kajang Luar hidup dan menetap di tujuh desa di Bulukumba. Sementara suku Kajang Dalam tinggal hanya di dusun Benteng. Di dusun Benteng inilah, masyarakat Kajang Dalam dan Luar melaksanakan segala aktifitasnya yang masih terkait dengan adat istiadat.
Meskipun suku Kajang terbagi menjadi dua kelompok, tidak ada perbedaan diantara keduanya. Sejak dulu hingga kini, mereka selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur.
Berdasarkan ajaran leluhur, masyarakat Suku Kajang harus selalu menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur.
            Tokoh Adat Suku Kajang, Mansyur Embas menuturkan bahwa , masyarakat Suku Kajang di Tana Toa selalu hidup dalam kesederhanaan. Di dalam setiap rumah warga Kajang, tidak ada satupun perabotan rumah tangga. Tidak ada kursi ataupun kasur. Mereka juga tidak menggunakan satupun peralatan elektronik, seperti Radio dan televisi. Mereka menganggap, modernitas dapat menjauhkan suku Kajang dengan alam dan para leluhur.
"Di dalam tidak ada kursi. Tidak ada kasur. Tidak ada kemoderan yang bisa kita liat. Tidak ada lambang yang sifatnya elektronik dan segala macamnya. Tidak ada elektronik, seperti radio dan televisi. Ini mengapa? Demi untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan alam lingkungan untuk tetap terjalin. Terjalin hubungan komunikasi batin dengan paar leluhur, para pendahulu. Yang paling utama hubungan dengan Tuhan."
Meskipun suku Kajang terbagi menjadi dua kelompok, tidak ada perbedaan diantara keduanya. Sejak dulu hingga kini, mereka selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur.  Berdasarkan ajaran leluhur, masyarakat Suku Kajang harus selalu menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur.
            Tokoh Adat Suku Kajang, Mansyur Embas menuturkan bahwa , masyarakat Suku Kajang di Tana Toa selalu hidup dalam kesederhanaan. Di dalam setiap rumah warga Kajang, tidak ada satupun perabotan rumah tangga. Tidak ada kursi ataupun kasur. Mereka juga tidak menggunakan satupun peralatan elektronik, seperti Radio dan televisi. Mereka menganggap, modernitas dapat menjauhkan suku Kajang dengan alam dan para leluhur.
Bagi masyarakat Kajang, modernitas juga dianggap sebagai pengaruh yang dapat menyimpang dari aturan adat dan ajaran leluhur. Mereka tidak mudah untuk menerima budaya dari luar daerah. Mansyur Embas, tokoh adat Suku Kajang menceritakan dulu, di Tana Toa tidak ada satupun tempat pendidikan formal. Tidak ada satupun warga suku Kajang yang mau untuk menuntut ilmu secara formal. Namun seiring dengan pemikiran warga Suku Kajang yang semakin maju, semuanya telah berubah sedikit demi sedikit. berikut penuturan dari Mansyur Embas.
"Ini dikarenakan dianggapnya mereka ini tabu untuk melakukan hubungan dengan dunia luar bagi perempuan adat di dalam kawasan hidup Amatoa itu. Mungkin ada beberapa unsur pengaruh negatif. Keluar, pengawasan sudah kurang. Pengawasan keluarga sudah jarang. Ketiga, mungkin karena pengaruh pergaulan yang mereka sama sekali di awal kehidupannya belum pernah melihat tata cara seperti itu, mereka langsung bisa terjerumus. Inilah yang mereka jaga. Tapi, kalau sekarang ini sudah sedikit agak terbuka. Di dalam sudah ada sekolah lanjutan tingkat atas. Mereka sudah mulai terbuka karena itu. Artinya keterbukaan ini sudah menyadarkan mereka juga sudah menyadari ketertinggalan pendidikan. Malah sudah ada asli wanita dalam itu sudah jadi Polwan."


Kesederhanaan Suku Kajang juga dapat Anda lihat dari bentuk rumah Kajan. Di Tana Toa, semua rumah warga dibangun dari bahan yang sama . Bangunan rumahnya terbuat dari kayu. Sementara atapnya terbuat dari ijuk. Tidak hanya bahan, bentuk rumahnya juga sama. Konon, konsep ini tidak hanya menunjukkan kesederhanaan. Mereka juga menganggapnya sebagai simbol keseragaman. Mereka percaya, jika ada keseragaman tidak akan ada rasa iri diantara masyarakat Suku Kajang.
Meskipun kini masyarakat Kajang sedikit terbuka terhadap pengaruh budaya dari luar, hukum adat dan ajaran para leluhur tetap mereka pegang teguh. Setiap pendatang yang ingin berkunjung ke Tana Toa tetap harus mematuhi semua aturan adat yang berlaku. Untuk masuk ke wilayah Tana Toa, Anda tidak boleh menggunakan sarana transportasi modern. Di area Tana Toa, Anda diharuskan untuk berjalan kaki. Sebagai alternatif, Anda hanya boleh menunggang kuda untuk mengelilingi Tana Toa.
Keseragaman dan kesederhanaan tidak hanya terlihat dari bentuk rumahnya. Setiap hari, suku Kajang juga mengenakan pakaian yang warnanya sama. Mereka selalu mengenakan pakaian bewarna hitam. Bagi mereka, hitam melambangkan kesederhanaan dan kesamaan antar sesama masyarakat Kajang. Oleh masyarakat Kajang, warna hitam juga dijadikan simbol agar mereka selalu ingat akan dunia akhir atau kematian. Untuk menghadapi kematian, setiap masyarakat Kajang harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak mereka dilahirkan. Mereka harus selalu berbuat baik, menjaga alam, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa dan ajaran leluhur.


Dalam membuat sebuah rumah, masyarakat Kajang harus mematuhi beberapa aturan adat yang berlaku. Salah satunya, mereka hanya boleh membangun rumah dari kayu. Rumah tidak boleh dari batu bata ataupun tanah. Bagi mereka, hanya orang matilah yang diapit tanah. Sementara rumah untuk tempat orang hidup. Jika rumah dari batu bata ataupun tanah, meskipun penghuni rumah itu masih hidup, mereka akan dianggap mati oleh seluruh masyarakat Kajang.
Bagi masyarakat Kajang, ajaran para leluhur memiliki arti penting. Begitu pentingnya, mereka selalu menjalankan berbagai aktifitas kehidupan berdasarkan tradisi leluhur. Aturan adat dari Sang Leluhur juga selalu mengikat setiap kegiatan mereka.


B.    RUMUSAN MASALAH

Konsep hidup masyarakat yang ideal akan berbeda setiap daerah dan suku. Tetapi secara umum, masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat menyimpang beribu-ribu kebijaksaan yang susah didapat pada masyarakat modern. Suku Kajang adalah salah satu suku yang masih bertahan dari sekian banyak suku yang sudah tergeser yang oleh sebagian orang disebut sebagai hidup “modern”. Orang-orang Kajang adalah orang-orang yang memiliki sikap kearifan yang tinggi dalam mengelolah alam dan bergaul dengan lingkungan serta orang-orang disekitarnya. Hidup mereka ditunjukkan dengan sikap kebersamaan yang di perlihatkan dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal mengolah tanah misalnya, mereka mengadakan rera. Tidak hanya sampai disitu, bahkan hampir disegala lini kehidupan orang Kajang selalu mengerjakan kerja secara bersama-sama, membangun rumah, membajak sawah, menuai padi dll.
Perilaku menolong (altruisme), bukanlah barang asing, bahkan merupakan suatu aib jika seseorang tidak memperlihatkan sikap ini. Sikap hidup yang individualis dianggap menyimpang. Manusia tidak dapat hidup sendiri dalam mengolah alam ataupun mempertahankan diri dalam masyarakat yang masih tergantung dengan alam. Kita bandingkan dengan kehidupan modern, dimana individualisme yang ditonjolkan, sehingga manusia berada dalam keadaan yang selemah-lemahnya, karena mengabaikan kehidupan social yang sehat. Dan  mereka juga melakukan pola interaksi sosial antar warga agar mereka dapat bersosialisasi secara sehat.
Suku ini dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut Amma Toa. Amma Toa berkewajiban memelihara adat-istiadat yang sudah ada beberapa generasi. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Suku Kajang selalu berlandaskan pada pasang. Salah satu bunyi pasang “Kajang, tana kamase-masea”. Tekanan hidup yang dialami oleh masyarakat modern, hampir tidak pernah terlihat pada suku Kajang.
Sikap pasrah, dengan membangun relasi yang positif dengan orang lain, hidup tanpa tekanan, membuat hidup masyarakat kajang sebagai masyarakat yang sehat secara psikologis.

C.     TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan pokok masalah penelitian tersebut di atas, tujuan dari penelitian ini adalah
1.      Untuk memahami karakteristik informan, dalam hal ini Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Ammatoa di Desa Tanatowa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan.
2.      Menggambarkan bentuk interaksi dalam kehidupan sehari-hari (keagamaan/ adat, pertanian dan kemasyarakatan) masyarakat Adat Ammatoa dengan masyarakat luar.
3.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa yang dialami masyarakat Adat Ammatoa dalam melakukan interaksi dengan masyarakat luar dan upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut.



D.    MANFAAT
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.       Manfaat secara teoritis
Untuk memahami lebih mendalam bentuk-bentuk interaksi sosial pada suatu komunitas, dalam hal ini Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Ammatoa Dengan Masyarakat luar di Desa Tanatowa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan.
2.       Manfaat secara praktis
Membantu masyarakat memahami proses interaksi sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Ammatoa Dengan Masyarakat Luar di Desa Tanatowa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan dan dalam rangka membantu pemerintah untuk lebih mendalam memperhatikan masalah-masalah yang dialami oleh KAT dan memperhatikan kesejahteraan sosial mereka, serta sebagai sumbangan pengetahuan secara teoritis dan positif bagi pengembangan metode dan kegiatan praktis yang harus dilakukan oleh pekerjaan sosial diberbagai setting khususnya bagi Komunitas Adat Terpencil.
3.       Mampu mengetahui hambatan-hambatan yang dialami masyarakat ammatoa dalam melkukan interaksi dalam masyarakat.

















BAB 3
ISI

 

A.                 KOMUNITAS KAJANG DI TENGAH PERGULATAN ZAMAN

Interaksi sosial bagi komunitas lokal Kajang memang diketahui sejak dari dulu mereka mengasingkan diri dari komunitas luar. Keteguhan mereka untuk tetap mempertahankan tradisi dan falsafah hidup yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka masih tetap mereka pertahankan sampai hari ini. Akibatnya mereka selalu distigma negatif oleh kalangan masyarakat modern sebagai komunitas yang tidak berperadaban dan tertinggal.
Kehadiran modernisasi telah membawa dampak ketidakberuntungan bagi komunitas lokal Kajang. Modernisasi telah menjadi tolak ukur dalam menilai kebudayaan masyarakat. Budaya lokal kajang dalam kaca mata modernisasi dianggap dan dinilai sebagai budaya rendah, kolot, dan rigit. akibatnya diskriminasi dan marjinalisasi mereka alami dikarenakan masyarakat lokal Kajang dinilai terisolasi dari keramaian dan hiruk-pikuk kemajuan zaman. Apa yang diistilahkan sebagai budaya rendah dan budaya tinggi yang merupakan hasil kontruksi dari modernisasi juga telah berdampak pada komunitas Tana Toa Kajang.
                Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh dan cara pandang orang Barat terhadap kebudayaan.

Konsep Barat dalam melihat kebudayaan sebagai keberadaban, sementara keberadaban dihubungkan dengan modernitas, maka baginya komunitas yang beradab adalah komunitas yang maju secara modern, sementara konsep budaya Sulawesi selatan lebih mengarah pada adat-istiadat. Dalam peradaban modern adat istiadat dianggap sesuatu yang bersifat kalasik bahkan primitive sehingga cenderung untuk dijauhi, khususnya bagi kaum muda karena dianggap kontra modernisasi. (Ahyar Anwar, 2010)

Seiring dengan perjalanan waktu, sikap hidup yang selama ini di jungjung tinggi oleh komunitas                  adat Tana Toa Kajang tak luput dari gempuran modernisasi, sejumlah toleransi dan kompromi terhadap masyarakat luar yang modern telah mereka lakukan, interaksi antar komunitas adat dan nonadat tak bisa terelakkan lagi, hal ini terjadi ketika pranata adat istiadat dikerdilkan oleh nasionalisasi struktur pemerintah. Tak satupun wilahyah dan komunitas di Tanah Air ini bebas dari relasi dan intervensi kekuasaan pemerintah termasuk Tana Toa Kajang.
Gurita Kekuasaan dan Kapitalisasi
                Dalam kacamata modernisasi, prinsip hidup masyarakat Kajang untuk tetap komitmen dalam hidup kamase-mase (keserderhanaan) dianggap tidak sejalan dengan pola hidup modernisasi (baca: pembangunan materil). Hidup kamase-mase bermula dari seorang pemimpin yang lebih dikenal dengan sebutan Ammatoa, ketika ia sudah dinobatkan sebagai pemimpin adat dan sekaligus sebagai pemimpin spiritual Tana Toa Kajang. Seorang pemimpin harus menjadi panutan masyarakat dan hidup apa adanya tanpa harus mengejar materi.
Kamase-mase merupakan salah-satu prinsip hidup yang terkandung dalam pasang ri Kajang, sebuah pesan yang sifatnya transendental dan menurut keyakinan masyarakat Tana Toa Kajang datang dari To Rie’ A’ra’na (penguasa alam semesta). Pasang ri Kajang tersebutlah yang menjadi pedoman dan prilaku hidup masyarakat Kajang dan juga didalamya mengajarkan bahwa masyarakat harus lebih bersahaja dari pada pemimpinnya. Kalau misalnya terjadi gagal panen atau musim paceklik, maka orang yang pertama merasakan lapar adalah Ammatoa. Sebaliknya, jika panen berhasil, maka para wargalah yang harus lebih dahulu dipersilahkan untuk menikmatinya, Ammatoa kemudian belakangan.
Sikap kepemimpinan yang dicontohkan oleh komunitas di daerah terpencil tersebut tentunya berbangding terbalik dengan sikap pemimpin masyarakat pada umumnya. Jangankan para pemimipin, wakil rakyat saja tidak sudi hidup jika rakyat lebih bersahaja dari pada dirinya,
Halilintar Lathief (Antropolog dari Universitas Negri Makassar) dalam menaggapi pola hidup masyarakat Kajang mengatakan bahwa “kesederhanaa hidup yang ditampakkan di Tana Toa Kajang adalah sebagai bentuk perlawanan atas kecenderungan manusia modern dalam mengejar materi dan hidup dalam surga hedonistik serta mengesampingkan aspek moral dan etika.(Halilintar Lathief, 2005)
Komentar Halilintar Lathief diatas semakin memperjelas bahwasanya pola kehidupan masyarakat kita telah tersemai dalam kehidupan modernisasi yang kapitalistik. Mencermati hidup kamase-mase untuk mengekang hawa nafsu, jujur, renda hati, tak mau merugikan orang lain dan menjaga keseimbangan alam patut diduga bahwa pengingkaran terhadap nilai-nilai tersebutlah yang menjadi penyebab utama terjadinya tindak korupsi di Negara ini.
Di Sulawesi-Selatan peran-peran construkted Negara yang berkolaborasi dengan kapitalis ini nampak dalam berbagai program kebijakan “civilisation” untuk komunitas lokal. Proses ini dilakukan terutama lewat program pendidikan dan program agama. Program ini sudah berjalan cukup lama. Komunitas lokal yang ada di beberapa tempat tersebut di modernisasi, disekolahkan dan di ajarakan tentang cara-cara beragama yang “benar” dalam lingkup agama resmi.
Di sisi lain, kapitalisme juga turut memperkeruh budaya Kajang. Kapitalisme yang selalu berorientasi untuk mencari keuntungan telah merusak tatanan alam dan tradisi yang selama ini dianggap sakral oleh komunitas Tana Toa Kajang. Kapitalisasi kebudayaan dalam bentuk wisata menjadikan upacara-upacara adat Tana Toa Kajang ikut terbawa arus dalam pola hidup modern, sehingga muncul anggapan bahwa budaya Kajang tidak lagi murni sebagai budaya lokal setempat karena telah dirasuki oleh budaya luar. kemudian budaya kajang juga telah diperjual belikan oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan wisatawan yang berkunjung ke Tana Toa Kajang.
Hal tersebut kemudian dibantah oleh Galla Sapa yang ditugasi untuk mengurus prosesi upacara adat di Tana Toa Kajang, beliau mengatakan bahwa “kami merayakan upacara adat bukan untuk para wisatawan yang berkungjung ke Kajang, sebab upacara adat tidak bergantung pada agenda kunjungan wisata”. hal ini sejalan dengan penegasan Ammatoa bahwa kehidupan mereka bukan untuk dijual akan tetapi untuk dipahami, sesuai dengan pernyataannya bahwa “Kehidupan kami hanya butuh untuk dipahami dan dihargai, tak perlu materi sebagai imbalannya (komersialisasi)”.
Dampak dari laju modernisasi yang sarat dengan muatan kapitalisme dan telah berkolaborasi dengan kekuasaan menjadi gurita tersendiri untuk tatanan kearifan kebudayaan dan spiritual di Tana Toa Kajang. Hal tersebut semakin diperparah ketika cara pandang pemerintah terhadap budaya lokal masih terkontaminasi oleh nalar devlopmentalisme. Bagunan megah masih lebih utama ketimbang harus membangun budaya lokal serta mengorbitakan kearifan lokal yang terkandung didalamnya.
Globalisasi atau modernisasi adalah merupakan arus besar yang telah menghantam tatanan nilai-nilai kebudayaan kita. Sehingga, dalam konteks masyarakat Kajang misalanya, kearifan local yang juga merupakan kebanggaan mereka sudah hampir diambang kepunahan akibat dari proses komersialisasi budaya untuk memenuhi kebutuhan nafsu hedonis penguasa. Hilangnya karakter, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah merupakan bukti nyata bahwasanya tatanan nilai-nilai kebudayaan kita telah tergusur oleh budaya global. Hal tersebut juga berdampak pada hilangnya originalitas makna kebudayaan nusantara.
                Dalam dunia global, Kebudayaan local hanya dilestarikan oleh pemerintah tapi dalam bentuk material dan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan wisatawan asing. dan dalam tatanan kehidupan tersebutlah, sehingga komunitas Kajang didekati oleh komunitas luar, khususnya kalangan wisatawan karena budaya mereka dianggap sebagai sesuatu yang unik dan menarik untuk dikomersialkan dan juga bagi kalangan pemerintah, keunikan budaya Kajang dan kehidupannya bisa menjadi sumber dan aset APBD. Inilah sekelumit gambaran hidup komunitas Kajang ditengan arus pergerakan zaman.

B.                 SOSIAL BUDAYA KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) SUKU AMMATOA DI DESA TANATOWA DISTRIBUSI

Terlihat Desa Tanatowa mempunyai penduduk yang relatif banyak. Desa ini merupakan Desa yang sangat erat kaitannya dengan dengan komunitas adat Ammatoa karena perkampungan pemimpin tertinggi adat tinggal di Desa ini. Mata pencaharian masyarakat adat Ammatoa, pada umumnya petani, peternak, sebagian kecil pedagang, pertukangan dan pegawai. Lokasi sawah dan ladang mereka cukup jauh dari tempat tinggalnya sekitar 1-7 km. Petani umumnya mengerjakan sendiri sawah ladang mereka. Kaum perempuan pekerjaannya menenun kain (sarung dan selendang) dengan bahan tenunnya berasal dari tanaman Tarum yang mereka tanam sendiri. Alat tenun dan alat setrika dibuat dengan teknologi yang sangat sederhana. Hasil tenun ini dapat dipasarkan langsung kepada pembeli yang datang terutama turis asing dengan harga sekitar Rp. 250.00. Mata pencaharian lainnya dari sektor pertanian adalah menanam komoditas jangka panjang seperti kayu jati dan tanaman semusim seperti coklat, kopi, merica, kelapa, durian, kapok, langsat, jambu mente, jambu putih, cengkeh.

                Dalam kawasan adat Tana Toa terdapat suatu kawasan inti yang berada di sekitar rumah Ammatoa dan para pemangku adat. Kawasan inti ini terlihat dari letak atau pola pemukiman yang menghadap ke arah Barat atau arah kiblat, yang masih menyesuaikan dengan adat dan tradisi mereka. Setiap bentuk rumah Suku Kajang selalu sama, mereka menganggap, persamaan itu sebagai simbol kebersamaan. Secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masyarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya.
Tanatowa lahir karena ketidakteraturan yang terjadi di masa lampau. Seluruh kehidupan di dunia termasuk manusia pada waktu itu masih dalam keadaan liar. Keadaan ini mendorong sejumlah orang untuk membentuk sebuah komunitas berikut segala aturan yang ada di dalamnya yang sampai saat ini masih bertahan dan tetap dilestarikan oleh masyarakat adat.
Bahasa yang digunakan oleh orang Kajang sehari-hari adalah Konjo. Bahasa Konjo merupakan salah satu rumpun bahasa Makassar yang berkembang tersendiri dalam suatu komunitas masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Tana Toa memegang teguh Pasanga Ri Kajang (pesan di Kajang) yang juga adalah ajaran leluhur mereka. Dari pesan inilah lahir prinsip hidup sederhana dan saling menyayangi diantara mereka. Lebih dari itu adalah bentuk kasih sayang terhadap lingkungan mereka. Implementasinya dapat kita lihat dengan adanya hukum adat yang melarang mengambil hasil hutan dan isinya secara sembarangan. Masyarakat adat Tanatowa sangat peduli terhadap lingkungannya terutama pada kelestarian hutan yang harus tetap dijaga.
Dalam hal perkawinan, masyarakat adat Tanatowa terikat oleh adat yang mengharuskan menikah dengan sesama orang dalam kawasan adat. Jika tidak maka mereka harus hidup di luar kawasan adat, pengecualian bagi pasangan yang bersedia mengikuti segala aturan dan adat-istiadat yang berlaku di dalam kawasan adat. Hal tabu lainnya adalah memasukkan barang-barang buatan manusia yang tinggal di luar kawasan adat serta pengaruh maupun bentuk-bentuk lainnya ke dalam kawasan adat Tanatowa.
Kehidupan masyarakat adat Tanatowa sangat sederhana, bahkan rumah mereka pun sangat sederhana, tiap rumah hanya memiliki satu tangga berikut pintu masuk di bagian depan. Pada bagian dalam tidak ada kamar, yang ada hanyalah dapur yang terdapat pada bagian depan rumah tepat di sebelah kiri pintu masuk. Penempatan dapur di dekat pintu mengandung filosofis bahwa Orang Kajang sangat memuliakan dapur sebagai sumber kehidupan. Tidak adanya sekat ruangan memiliki makna bahwa orang Kajang ingin menunjukkan sikap keterbukaannya kepada para tamu yang datang.

C.                  MENOLONG ADALAH SALAH SATU POLA INTERKSI DI KAJANG

Perilaku menolong dapat dijelaskan dibeberapa macam teori yang memandang dari mana timbulnya perilaku menolong itu.
a)    Teori Psikoanalisis Teori ini bersandar pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya agresif dan selfish (egois) secara instingtif. Dengan demikian, beberapa tokoh psikoanalisis memandang altruisme sebagai pertahanan diri terhadap kecemasan dan konflik internal diri kita sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa altruisme lebih bersifat self-serving (melayani diri sendiri), bukan dimotivasi oleh kepedulian yang murni terhadap orang lain.Meskipun diakui bahwa pengalaman sosialisasi yang positif dapat membuat kita tidak terlalu selfish (lebih selfless), para tokoh psikoanalisis tetap memandang pada dasarnya manusia bersifat selfish artinya manusia itu makhluk yang egois, perilaku menolong itu muncul hanya karena suatu defens mechanism untuk mempertahankan diri agar tetap eksis dan merasa aman.
b)    Teori BelajarKhususnya tokoh-tokoh aliran psikologi belajar yang menekankan reinforcement seperti B.F. Skinner beranggapan bahwa kita cenderung mengulangi atau memperkuat perilaku yang memiliki konsekuensi positif bagi diri kita. Mengenai altruisme, mereka berpendapat, bahwa di balik perilaku yang tampaknya altruisme sesungguhnya adalah egoisme atau kepentingan diri sendiri. Hampir sama dengan pandangan Psikoanalisa, Teori belajar juga mengganggap manusia adalah makhluk yang selfish (egois). Hanya saja, menurut teori belajar, sifat altrusitik ataupun selfish itu didapatkan dari lingkungan pembelajaran.
c)     Teori norma sosial
Teori ini bersumber dari pola hubungan masyarakat yang dilihat dari beberapa aspek, diantaranya:
·         Norma timbal balik, membalas pertolongan dengan pertolongan
·         Norma tanggung jawab sosial, menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan.
·         Norma keseimbangan, bahwa manusia memiliki perilaku menolong karena untuk mempertahankan keseimbangan.
d)    Altrusme dalam IslamIslam memandang bahwa perilaku menolong adalah merupakan fitrah manusia yang dibawah sejak lahir, artinya manusia sudah mempunyai sifat-sifat itu dan merupakan sifat dasar dalam membangun relasi social nantinya. Dalam masyarakat Muslim pun, sangat mengajurkan perilaku ini, bahkan pada satu hadist disebutkan “tidak akan masuk syurga orang yang membiarkan tetangganya mati kelaparan”.
Perilaku menolong adalah salah satu perilaku prososial yang lahir karena adanya proses pembelajaran dilingkungan. Proses ini dimulai sejak anak mulai mengenal lingkungan. Menurut Cialdini (1982) anak adalah individu yang berusia antara 10-12 tahun, yang merupakan masa peralihan antara tahapan presosialization (tahap dimana anak tidak peduli pada orang lain, mereka hanya akan menolong apabila diminta atau ditawari sesuatu agar mau melakukannya, tapi menolong itu tidak membawa dampak positif bagi mereka), tahap awareness (tahap dimana anak belajar bahwa anggota masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka saling membantu, mengakibatkan mereka menjadi lebih sensitif terhadap norma sosial dan tingkah laku prososial), dan tahap internalization (15-16 tahun). Pada tahap ini perilaku menolong bisa memberikan kepuasan secara intrinsik dan membuat orang merasa nyaman. Norma eksternal yang memotivasi menolong selama tahap kedua sudah diinternalisasi. Lingkungan yang tidak mendukung akan timbulnya perilaku altruism ini, kemungkinan besar hubungan antar anggota masyarakat lebih bersifat individual. Pada dasarnya, menurut pandangan Islam, perilaku menolong dan perilaku hidup prososial adalah merupakan fitrah manusia, artinya kecenderungan untuk melakukan perilaku menolong sudah ada dalam diri manusia, tinggal lingkungan memberikan support, apakah akan memunculkannya atau tidak.
Faktor-Faktor yang Mmpengaruhi Perilaku Menolong
1.Suasana hati.Jika suasana hati sedang enak, orang juga akan terdorong untuk memberikan pertolongan lebih banyak. Itu mengapa pada masa puasa, Idul Fitri atau menjelang Natal orang cenderung memberikan derma lebih banyak. Merasakan suasana yang enak itu orang cenderung ingin memperpanjangnya dengan perilaku yang positif. Riset menunjukkan bahwa menolong orang lain akan lebih disukai jika ganjarannya jelas. Semakin nyata ganjarannya, semakin mau orang menolong (Forgas & Bower).Bagaimana dengan suasana hati yang buruk? Menurut penelitian Carlson & Miller, asalkan lingkungannya baik, keinginan untuk menolong meningkat pada orang yang tidak bahagia. Pada dasarnya orang yang tidak bahagia mencari cara untuk keluar dari keadaan itu, dan menolong orang lain merupakan pilihannya. Tapi pakar psikologi lain tidak meyakini peran suasana hati yang negatif itu dalam altruisme.
2. Empati.Menolong orang lain membuat kita merasa enak. Tapi bisakah kita menolong orang lain tanpa dilatarbelakangi motivasi yang mementingkan diri sendiri (selfish)? Menurut Daniel Batson bisa, yaitu dengan empati (pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri). Empati inilah yang menurut Batson akan mendorong orang untuk melakukan pertolongan altruistis.
3. Meyakini Keadilan Dunia.Faktor lain yang mendorong terjadinya altruisme adalah keyakinan akan adanya keadilan di dunia (just world), yaitu keyakinan bahwa dalam jangka panjang yang salah akan dihukum dan yang baik akan dapat ganjaran. Menurut teori Melvin Lerner, orang yang keyakinannya kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi untuk mencoba memperbaiki keadaan ketika mereka melihat orang yang tidak bersalah menderita. Maka tanpa pikir panjang mereka segera bertindak memberi pertolongan jika ada orang yang kemalangan.
4. Faktor Sosiobiologis.Secara sepintas perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif, mengandung risiko tinggi termasuk terluka dan bahkan mati. Ketika orang yang ditolong bisa selamat, yang menolong mungkin malah tidak selamat. Perilaku seperti itu antara lain muncul karena ada proses adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orangtua. Selain itu, meskipun minimal, ada pula peran kontribusi unsur genetik.
5. Faktor Situasional.Apakah ada karakter tertentu yang membuat seseorang menjadi altruistis? Belum ada penelitian yang membuktikannya. Yang lebih diyakini adalah bahwa seseorang menjadi penolong lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor yang ada pada dirinya.
6. Faktor Penghayatan Terhadap AgamaAgama manapun didunia ini semuanya menganjurkan perilaku menolong. Sehingga semakin tinggi tingkat penghayatan keagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula perilaku menolongnya. Perilaku menolong didasari karena sikap berbakti kepada manusia sebagai wujud ketaatannya kepada Tuhan. Sebagai orang yang beriman pada Tuhan, tentu saja spiritualitas ini dikembangkan melalui persatuan dengan Tuhan, juga dengan sesama umat manusia dan alam semesta ciptaan-Nya. Dengan itu, prososial akan menjadi ciri khas yang melekat dalam diri seseorang karena orang lain disadari sebagai bagian dari hidupnya. Prososial bukan lagi berupa tindakan temporer yang disertai pamrih pribadi.
Munculnya Perilaku Menolong Masyarakat Suku Kajang
Masyarakat yang masih memegang teguh adat-istiadat akan selalu kita jumpai perilaku ini. Masyarakat Suku Kajang, menganggap hidup yang individualis adalah hidup yang menyimpang dan antisosial dan dalam pergaulan dimasyarakat akan dikucilkan karena dianggap melanggar norma dan tatanam adat yang ada.
Teori munculnya perilaku menolong, ataupun factor-faktor yang mempengaruhi perilaku menolong, menjadikan lingkungan sebagai alat utama pembentuk sikap menolong ini. Walaupun ada beberapa pandangan lain yang menganggap bahwa sikap altruis itu sudah dibawah sejak lahir (Pandangan Islam), tetapi masih membutuhkan lingkungan sebagai tempat sosialisasi dalam mengembangkan fitrah/potensi altruis ini. Masyarakat Suku Kajang sebagai suku yang menjunjung tinggi sikap menolong (rera) dan merupakan suatu norma dalam hubungan antar anggota suku (masyarakat) membuat perilaku menolong tidak asing bagi masyarakat Kajang. Keadaan alam yang masih sukar untuk ditaklukkan sendiri, sehingga masih membutuhkan bantuan orang lain. Lingkungan Suku/daerah yang mendukung munculnya perilaku altruis memupuk tumbuh suburnya sikap ini. Suku Kajang yang terkesan tertutup membuat suku ini jauh dari pengaruh budaya-budaya lain yang bersifat negatif.


D.                PROSES INTERAKSI  SOSIAL
Masyarakat adat Kajang dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, menganut atau bersandar pada Pasang (pesan). Pasang yang dimaksud adalah pesan, amanat, perintah, yang bersifat memaksa dan mengikat penganutnya. Oleh karena sifat itulah maka Pasang ini mempunyai sanksi yang jelas dan tegas terhadap penyimpangan yang terjadi. Kedudukan Pasang jika coba diteliti lebih lanjut, maka akan tampak bahwa Pasang -menurut penganutnya- setara kedudukannya dengan hadist dalam agama Islam. Di mana diketahui bahwa hadist adalah ucapan dan perilaku nabi yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan, maka demikian pula halnya dengan Pasang yang berlaku di masyarakat adat Kajang. Menurut masyarakat adat Kajang, Pasang adalah norma atau nilai yang harus dijunjung tinggi. Pelanggaran terhadap norma atau nilai itu, akan mengakibatkan dijatuhkannya sanksi kepada pelakunya.


BAB 3
PENUTUP

A.                KESIMPULAN
Menurut hasil wawancara di kec.kajang kab.bulukumba kami dapat menyimpulkan bahwa didesa ammatoa interaksi sosial sudah terjadi tetapi hanya sesama orang desa saja karena untuk berinteraksi dengan warga desa yang diluar kajang sedikit memiliki kesulitan, karena jika warga kajang dalam ingin berinteraksi harus keluar desa terlebih dahulu. Karena budaya yang dimiliki desa kajang dalam dengan desa kajang luar memilki kebudayaan yang berbeda. Tetapi, menurut kami tidak menutup kemungkinan kalau Budaya dari desa kajang dalam dapat berubah karena perkembangan zaman serta pola interaksi masyarakat sekarang sudah dalam keadaan modernisasi. Jadi, pola interaksi pun akan sangat berperan penting dalam proses ini. Pola interaksi dari desa kajang hampir sama dengan pola interaksi di desa-desa lainnya hanya yang membedakannya yaitu dari segi sanksi jika melanggar aturan.
B.     SARAN
Menurut kami penelitian atau fieldtrip yang kita lakukan sudah sangat baik tetapi hanya harus lebih baik lagi. Karena fieldtrip yang kita lakukan hanya terkendala di waktu dan kurangnya persiapan sehingga itu membuat kita agak kualahan dan kebingungan. Sehingga kami memberi saran jika fieldtrip harus dipikirkan secara detail dan spesifik lagi dan mata pembelajaran apa saja yang di fieldtripkan agar tidak terjadi saling memburu waktu, dan itu akan menyebabkan fieldtrip tidak berjalan dengan optimal. 

















DAFTAR PUSTAKA

Ø  http://halilintar2011.blogspot.com/2011/01/komunitas-kajang-di-tengah-pergulatan.html
Ø  http://www.google.co.id/search?q=KAJANG&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a&source=hp&channel=np#hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US%3Aofficial&channel=np&sclient=psy-ab&q=komunitas+KAJANG&oq=komunitas+KAJANG&aq=f&aqi=&aql=&gs_l=serp.3...110617l115179l5l116097l12l12l0l0l0l6l1074l6731l6-5j2l7l0.frgbld.&pbx=1&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_qf.,cf.osb&fp=677de01e954a280f&biw=1600&bih=796
Ø  http://bambang-rustanto.blogspot.com/2010/04/komunitas-adat-ammatoa.html







0 komentar:

Poskan Komentar

Anda ingin membuat sms gratis seperti ini Klik di sini
 
;